Water is life…water is life…water is life…
There is no love
There are no children
And There’s no more life
When the water runs dry
Bait lagu yang dinyanyikan Viki Sianipar feat Deasy Sianipar, membuat saya tertegun. Merenungkan kata demi kata yang tersurat, menyadari betapa pentingnya air bagi kehidupan dan betapa suramnya hidup jika ia tiada.
Water is Life and there’s no more life when the water runs dry.
Air dan manusia memang tak bisa dipisahkan. Dimana ada air, maka disitulah peradaban lahir. Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban dunia ini lahir di antara sungai Tigris dan Euphrates. Peradaban Mesir Kuno bergantung pada sungai Nil. Pusat-pusat kegiatan manusia yang besar seperti Rotterdam, London, Montreal, Paris, New York City, Shanghai, Tokyo, Chicago, dan Hong Kong mendapatkan kejayaannya sebagian dikarenakan adanya kemudahan akses melalui perairan. Indonesia juga disebut sebagai negara maritim karena luasnya perairan negara ini.
Lantas, apa yang akan terjadi jika air menjadi langka dan bahkan tidak ada lagi di muka bumi ini?
Terkadang terbesit dalam hati bahwa takkan mungkin dunia ini akan mengalami kelangkaan air. Bayangkan saja, dua pertiga luas permukaan bumi adalah perairan dan selebihnya daratan. Jadi, sudah pasti sumber air akan tetap ada. Namun, menurut Maude Barlow dan Tony Clarke (Blue Gold, 2005), jumlah air di planet Bumi kira-kira 1,4 miliar kilometer kubik. Dari jumlah itu, air tawar yang tersedia hanya 2,6 persennya atau 36 juta kilometer kubik. Tak banyak volume air tawar yang dapat dinikmati manusia dari siklus air yang berlangsung cepat, yaitu hanya sekitar 0,77 persen dari total air tawar yang ada di alam, atau hanya 11 juta kilometer kubik.
Sejak tahun 1998, 208 negara di dunia telah mengalami kelangkaan air, bahkan angka ini diperkirakan akan naik menjadi 56 negara pada tahun 2025. Perubahan iklim, kerap memicu peluang Indonesia menjadi bagian dari negara yang mengalami kelangkaan air tersebut.
Direktur World Water Week Jens Berggren mengatakan, ”Secara fisik, air tersedia. Persoalannya ialah manajemen air.”
Walau negeri ini memiliki banyak sungai, danau, waduk, dan rawa sebagai potensi sumber daya air selain air tanah, tapi tidak semuanya bisa digunakan untuk kepentingan sehari-hari. Ditambah lagi dengan kondisi hutan negeri ini yang tergolong rusak parah dan jumlah kerusakannya mencapai 77 juta hektar, tentu potensi sumber daya air menjadi berkurang. Bahkan, Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2007 melaporkan, penurunan kualitas air disebabkan oleh rusaknya daerah tangkapan air yang cenderung diperparah oleh gejala perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global. Jika akar masalah tidak segera diselesaikan dan model pengelolaan air tidak segera diperbaiki, maka ancaman kelangkaan air akan terjadi di negeri ini.
Lihat saja, betapa banyak daerah-daerah di negeri yang kaya akan sumber daya air ini yang mengalami kekeringan? Betapa banyak masyarakat yang setiap hari harus mengeluarkan rupiah hanya untuk membeli air? Berapa banyak biaya, waktu, dan tenaga yang harus dihabiskan hanya untuk mendapatkan air bersih di negeri bahari ini?
Sungguh ironis bukan?
Oleh karena itu, upaya penyelamatan lingkungan, termasuk di antaranya penyelamatan sumber-sumber air, harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Apalagi Indonesia dalam visi airnya, telah mencanangkan menuju terwujudnya kemanfaatan air yang mantap, yang berdaya guna, dan berhasil guna, serta berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh rakyat.
Memanen Hujan
Air adalah sumber kehidupan. Water is life, no water, no life. Jika masalah krisis air terus menerus dibiarkan tanpa adanya pemecahan yang tepat, maka tidak lama lagi air akan menjadi barang langka dan berharga. Emas dan berlian tak berguna lagi kala itu. Tidak ada lagi hujan, melainkan hujan asam. Tak ada lagi sungai, waduk, danau. Yang tersisa hanyalah tanah kering keronta.
Seperti yang dikemukakan Berggren pada Pekan Air Sedunia di Stochklom, September 2010 silam, yang menjadi salah satu penyebab krisis air adalah manajemen air, tetapi menurutnya hal tersebut dapat dipecahkan. Di antaranya adalah dengan mengoptimalisasi pasokan, penyimpanan, penyaluran, serta penggunaan air itu sendiri.
Kita sering lupa, hujan adalah berkah yang diturunkan Tuhan kepada makhlukNya di dunia. Terutama untuk penyediaan air tawar yang bersih. Selama ini, krisis air yang terjadi di negara kita adalah karena kurangnya pasokan, penyimpanan, dan penyaluran air itu sendiri. Padahal, kita dapat meningkatkan pasokan air dengan cara memanen hujan dan aliran permukaan (rainfall dan rainoff harvesting).
Air hujan diberikan jalan untuk meresap ke dalam tanah menjadi air tanah melalui lubang biopori, sumur resapan, sungai, danau, situ, ataupun waduk. Yang terpenting tempat-tempat penampungan air tersebut harus mempunyai kemampuan untuk meresap air masuk ke dalam tanah. Sisa air hujan yang tidak ditanam baru dialirkan dan dibuang ke laut. Upaya ini juga dimaksudkan untuk mencegah bencana banjir yang selalu datang pada musim hujan.
One Man One Tree
Program penanaman pohon juga merupakan salah satu tindakan yang efektif untuk mencegah terjadinya krisis air. Sebagaimana kita ketahui, pohon tak hanya menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida, tetapi juga menjadi penadah hujan dan menghasilkan sumber daya air. Bayangkan saja, satu pohon yang kita tanam selama daur hidupnya akan menghasilkan lebih kurang 2.500 galon air setiap tahunnya.
Saat ini, isu pemanasan global dan ajakan penanaman pohon juga telah bergema di mana-mana. Seperti program satu miliar pohon atau one man one tree. Menurut saya, ini adalah program yang sangat hebat. Tetapi yang terpenting di sini tidaklah berapa banyak pohon yang ditaman melainkan adalah kesinambungan penanaman pohon itu sendiri. Pelestarian lingkungan demi melindungi pemenuhan kebutuhan sumber daya alam bagi manusia sungguh merupakan suatu yang tak bisa ditawar-tawar.
Tentunya gerakan penananaman pohon, selain dapat mengurangi pemanasan global, juga merupakan salah satu bentuk tindakan untuk menyelamatkan sumber daya air demi keberlangsungan hidup kita di masa yang akan datang. Bayangkan saja jika 77 juta hektar hutan yang rusak di negara ini direboisasi, maka bencana banjir, longsong, kekeringan, dan krisis air akan dapat diminimalkan. Sehingga kelak, kesejahteraanlah yang kita wariskan anak cucu. Bukan sebaliknya, karena ulah kita para generasi penerus nantinya mendapatkan malapetaka.
Banyak sekali langkah-langkah lainnya yang dapat kita tempuh dalam melakukan konservasi sumber daya air. Lalu bagaimana dengan kamu?


Wah.. keren. Setiap kata dirangkai dengan begitu bagusnya.