Feeds:
Tulisan
Komentar

Let’s Save The World. Mari kita selamatkan bumi. Jak Peuseulamat Bumoe. Kalimat-kalimat tersebut sengaja saya pilihkan sebagai tagline blog ini. Selamatkan bumi!

Lantas kenapa menyelamatkan bumi lewat tulisan? Mungkin itu yang terpikirkan dibenak teman-teman semua. Ya, lewat tulisan adalah salah satu cara saya mengajak teman-teman semua untuk menjaga bumi ini. Karena lewat tulisan berbagai aspirasi dapat tersampaikan dan tentunya tak kan hilang setelah tulisan ini disebarkan. Bahkan banyak orang-orang hebat yang mengkampanyekan berbagai hal yang mungkin sampai sekarang kita ketahui adalah lewat tulisan. Lalu, kenapa kita tidak mengkampanyekan penyalamatan bumi ini lewat tulisan juga?

Lalu, kenapa saya memilih blog? Kenapa saya tidak menulis buku saja atau mengirimnya ke surat kabar? Saya memilih blog karena blog ini adalah media saya, saya bebas menuliskan pendapat saya karena ini punya saya. Saya yang menjadi pemimpin redaksi, editor, serta penerbit. Jadi dengan blog saya memiliki kemudahan dalam mempublikasikan tulisan saya. Lanjut Baca »

Hutan Tangse

Pembakaran hutan terus saja terjadi. Foto ini saya ambil ketika dalam perjalanan menuju Tangse, Kab. Pidie. Hutan dibakar untuk dijadikan areal perkebunan. Walhasil, ketika curah hujan tinggi, maka longsorpun menjadi hadiah dari sang hutan.

Kedatangan Amerika Serikat dengan komitmen serius dalam pengurangan emisinya dianggap penting bagi tercapainya kesepakatan perundingan iklim di Kopenhagen. Dunia pun memiliki harapan besar pada kepemimpinan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat yang baru dalam mengatasi perubahan iklim internasional, namun sampai sekarang masyarakat dunia kecewa dengan sikap yang belum ditunjukkan Presiden Amerika Serikat itu.

Untuk menyampaikan rasa kecewa dan mencoba mendapatkan kepedulian Obama untuk bersikap serius dengan komitmen pengurangan emisi yang mengikat secara hukum, masyarakat sipil global yang dimotori Third World Network (TWN) dan Friends of the Earth (FoE) menyampaikan surat pada Barack Obama saat kedatangannya di Kopenhagen, Kamis (17/12). Organisasi masyarakat sipil dunia ini pun berharap mendapat dukungan dari berbagai lembaga dan masyarakat sipil di seluruh penjuru dunia. Dukungan bisa melalui alamat email: Meena Raman (meenaco@pd.jaring.my) dan Hira Ghindwani (semestha@yahoo.com). Lanjut Baca »

Pengelolaan Sampah

Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous).

Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.

Komposisi Sampah

Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;
2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton; Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ± 30%. Lanjut Baca »

PEKANBARU, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) wilayah Riau, Hariansyah, menyatakan berduka atas tindakan Departemen Kehutanan memberikan izin penebangan kayu alam sebanyak 12 juta meter kubik di Riau. Pemberian izin itu, menurut Walhi, jelas-jelas melukai rasa keadilan masyarakat karena ternyata kerusakan hutan di Riau mendapat restu dari pemerintahnya sendiri.

Menurut Hariansyah, terbongkarnya kasus pemberian 30 izin rencana kerja tahunan (RKT) dari Departemen Kehutanan kepada perusahaan kayu di Riau, terutama untuk kebutuhan pabrik kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper serta PT Indah Kiat Pulp and Paper, dapat disebutkan sebagai bencana di ujung tahun 2009. Apalagi, ternyata izin yang diberikan itu melebihi daya tampung perusahaan kayu di Riau.

“Pemerintah kita ini, terutama Departemen Kehutanan, ternyata terus saja mementingkan perusahaan kayu di Riau daripada menjaga kelestarian alamnya,” kata Hariansyah yang dihubungi, Selasa (1/12).

Ia mengatakan, dari 30 izin RKT itu, setidaknya volume kayu tebangan mencapai 23 juta meter kubik. Padahal, kebutuhan kayu Riau hanya sekitar 18 juta meter kubik (untuk pabrik kertas dan kebutuhan lain). Artinya, sekarang ini terdapat kelebihan pasokan kayu alam sebanyak 5 juta meter kubik.

“Bayangkan kayu alam itu sudah tinggal sedikit, eh… Menhut dengan gampangnya memberikan izin penebangan secara besar-besaran lagi. Tunggullah pembalasan alam yang akan datang lebih dahsyat,” tandas Hariansyah.

Menurut Hariansyah, Menteri Kehutanan yang baru, Zulkifli Hasan, dapat membenahi sektor hutan tanaman industri di Indonesia, terutama Riau. Sudah sepantasnya Menhut membuat evaluasi besar terhadap kebutuhan kayu negara ini.

“Menhut semestinya melakukan audit besar, berapa kebutuhan kayu secara nasional maupun per wilayah provinsi,” ujarnya.

Menurutnya, yang diaudit pertama kali adalah berapa sebenarnya kemampuan daerah menyuplai kayunya. Dari situ baru dilakukan kajian untuk menentukan kapasitas pabrik kertas atau untuk keperluan lain.

“Sekarang ini terbalik, pemerintah sibuk mendengarkan permintaan pengusaha untuk memperbesar kapasitas pabrik, padahal, pasokan kayu tanaman tidak mencukupi. Kalau sudah kurang, tentu saja kayu alam akan menjadi korbannya,” tegasnya.

sumber : kompas.com

Dewasa ini, internet telah menjadi kebutuhan bagi banyak orang. Dengan teknologi informasi tersebut kita bisa mengakses dan menemukan segala informasi di seluruh dunia dengan cepat dan mudah. Kebutuhan akan internet berdampak langsung pada peningkatan jumlah pemakai setiap tahun di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pemakai internet untuk 2008 mencapai 25 juta atau sekitar 10 persen dari total penduduk, tumbuh 1000 persen di bandingkan dengan tahun 2000 yang penggunanya hanya berkisar 2 juta orang(http://internetworldstats.com)

Semenjak kemunculannya pada tahun 1966, internet pelan-pelan merubah cara kita mengunyah informasi. Kini, makin banyak orang – termasuk saya sendiri – lebih asyik membaca informasi melalui media online, dan bukan melalui media cetak seperti buku, majalah dan koran. Tanpa disadari, kebiasaan mengkonsumsi berita online ini berdampak sangat baik untuk keselamatan bumi. Salah satunya adalah pengurangan pemakaian kertas. Lanjut Baca »

Global Warming

Apa itu global warming atau pemanasan global?

Global Warming adalah meningkatnya temperatur suhu rata-rata di atmosfer, laut dan daratan di bumi

Penyebabnya???

Penyebab dari peningkatan yang cukup drastis ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi (yang diolah menjadi bensin, minyak tanah, avtur, pelumas oli) dan gas alam sejenisnya, yang tidak dapat diperbaharui). Pembakaran dari bahan bakar fosil ini melepaskan karbon dioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer bumi. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke bumi.

Negara apakah yang menjadi penghasil terbesar global warming?

Penghasil terbesar dari global warming ini adalah negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dan lain-lain yang berada di belahan bumi utara.

Kok bisa???

Global warming ini dapat terjadi karena pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negara-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan yang kebanyakan adalah negara berkembang. Meskipun kontribusinya pada global warming tidak setinggi Negara-negara industri, Negara-negara berkembang juga ikut menghasilkan karbon dioksida dengan meningkatnya industri-industri dan perusahaan tambang (dengan bahan migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Lanjut Baca »

Kertas+limbah

Sampah kertas dapat kita jumpai dimana-mana, baik dirumah, di pasar, di jalanan dan sebagainya. Sampah kertas kelihatan sepele walaupun mudah hancur tetapi yang namanya sampah sering menimbulkan masalah yang dapat mengganggu kebersihan dan keindahan lingkungan bila tidak dikelola dengan baik. Sampah kertas dapat dimanfaatkan untuk didaur ulang menjadi kertas alternatif yang unik dan bernilai seni. Apalagi kalau pengolahannya dikombinasikan dengan sampah alami di lingkungan sekitar kita yang kaya akan keragaman potensi alamnya. Bahan dan cara sederhana dalam pengolahan kertas daur ulang dapat dilihat dari langkah-langkah berikut:

Peralatan :
- Ember kecil atau tempat plastik, gunting, cutter, pemotong kertas, baskom besar, tripleks, blender/lumping alu, kain, busa spons, saringan plastik dan cetakan Bahan :
- Kertas HVS bekas, kertas koran bekas, kertas majalah bekas dan lain-lain
- Lem – Bahan campuran (pewarna dan pewangi)

Proses Daur Ulang :
Perendaman. Kertas bekas disobek-sobek (dipotong/digunting) sekecil mungkin dan direndam dalam ember berisi air minimal sehari semalam.
Penghalusan/Pembuatan Bubur kertas. Setelah direndam, kertas dirumbuk/diblender menjadi pulp atau bubur kertas. Setelah bahan terlihat seperti adonan pindahkan ke baskom. Apabila perlu, gunakan saringan untuk membuang kelebihan air.
Pencampuran dengan Lem/Pewarna/Bahan Tekstur .Lem bercampur air diblender. Lem yang sudah diblender, dicampurkan ke pulp, kemudian diaduk hingga rata. Untuk memperkuat struktur kertas dan memberikan tekstur atau karakter, pulp dapat dicampur dengan bahan alam yang mengandung serat, pewarna atau pewangi.
Pencetakan. Campur dan aduk pulp dan air dalam baskom dengan tangan. Banyak sedikitnya air menentukan tebal-tipisnya lembaran kertas. Ambil cetakan, celupkan ke dalam baskom berisi campuran air dan pulp, angkat dalam posisi horizontal. Ketika terangkat, coba goyangkan sedikit untuk memastikan lapisan pulp menutupi permukaan saringan dengan rata, dan sisa air dapat terbuang ke bawah.
Pembuatan. Lembaran Kertas Tempelkan bagian atas cetakan dengan muka papan yang sudah dilapisi kain dan dibalikkan. Biarkan pulp mengering di antara papan dan cetakan. Sesekali tekan kertas basah melalui permukaan belakang cetakan dengan spons untuk menyerap kelebihan air. Ketika sudah agak kering lepaskan cetakan dari kertas basah dengan hati-hati.
Pengeringan Kertas. Setelah selesai, angkat papan dengan kertas masih tetap menempel pada kain dasarnya. Kain diletakkan di tempat rata dan dapat menggunakan kipas angin untuk mempercepat proses pengeringan lembaran kertas. Bila telah kering, kupas kertas dari lapisan kain. Kalau kertas yang dihasilkan masih terasa kurang rata dan bergelombang, kertas dapat ditindih di antara buku-buku atau digosok dengan setrika.

SELAMAT BEKERJA !!!

sumber foto : http://3.bp.blogspot.com

Hutan, Hujan, dan Bencana

Dulu ketika masih duduk dibangku sekolah dasar, guru saya sering bercerita tentang sebuah negeri yang kaya raya. Tidak ada tumbuhan yang tidak bisa tumbuh, beraneka jenis binatang sangat betah hidup di negeri itu. Seluruh permukaan negeri itu hijau karena ditutupi hutan atau tanah pertanian. Tanahnya sangat subur dan bisa menghasilkan rezeki yang tidak terhitung. Negeri itu merupakan hasil dari perkawinan dua sirkum besar, mediterania dan pasifik dan orang-orang sering menyebutnya sebagai zamrud khatulistiwa. Permadani hijau dunia yang penuh dengan kedamaian, kaya dan sejahtera.

Negeri itu adalah tanah airku Indonesia. Namun, itu hanyalah cerita masa lalu. Tak ada lagi zamrud khatulistiwa. Permadani hijau telah tak lagi utuh. Hutan telah menjadi malaikat maut ketika musim hujan dan kemarau tiba. Ya, malaikat maut yang mencabut nyawa siapa saja dengan longsor dan banjirnya. Tanah subur area pertanian hanya beberapa petak saja yang bersisa, selebihnya menjadi gersang akibat hutan yang tidak mampu mencukupi kebutuhan air di musim panceklik. Beginilah nasib negeri ini sekarang.

Mengapa ini terjadi di zamrudku? Lanjut Baca »

Hargai Bumi!

Setiap tahun 1,8 juta hektar hutan di Indonesia hancur, sebanyak 51 kilometer kubik kayu musnah perhari, dan kalau dianalogikan sebesar 300 kali luas lapangan bola setiap jamnya. Angka tersebut diperoleh dari kalkulasi berdasarkan data laporan State Of the World’s Forest 2007 yang dikeluarkan oleh the UN Food and Agriculture Organization’s (FAO).

Jika setiap orang menolak memakai tanda terima saat menarik uang di ATM, maka berarti kita telah menghemat kertas sepanjang dua milyar kaki atau setara dengan 15 kali lingkaran bumi.

Tulisan Sebelumnya »